maiancheckout.com – Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti Aging dari Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM, menekankan pentingnya pendidikan seksual dalam keluarga sejak anak usia dini. Hal ini dinilai efektif mencegah penyimpangan seksual di masa depan.
Menurut Prof. Wimpie, pendidikan seksual di rumah menjadi sangat penting di tengah maraknya informasi keliru dan menyesatkan di media sosial. โOrang tua jangan meninggalkan anaknya, apalagi setiap hari anak menonton media sosial. Pendidikan seks dalam keluarga sangat perlu,โ katanya dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis.
Orang tua dapat menyesuaikan materi edukasi seksual dengan usia anak. Contohnya, saat memandikan anak laki-laki, orang tua bisa memperhatikan perkembangan organ kelamin untuk memastikan pertumbuhan normal. Sementara pada anak perempuan, pertanyaan seputar menstruasi atau perubahan fisik seperti jerawat menjadi pendidikan seksual tidak langsung namun efektif.
โBanyak orang tua memantau pertumbuhan anak, misalnya membandingkan ukuran penis anak dengan teman sebaya. Itu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk edukasi,โ jelas Prof. Wimpie.
Baca juga: “Menkes Tegaskan Super Flu Bukan Penyakit Baru”
Faktor Bawaan dan Lingkungan dalam Pembentukan Orientasi Seksual
Prof. Wimpie menjelaskan bahwa orientasi seksual dipengaruhi oleh faktor bawaan sejak lahir dan lingkungan sosial. Faktor bawaan tidak dapat diubah, sementara perilaku dari lingkungan dapat muncul akibat interaksi tertentu.
โKalau bicara homoseksual, bisa bawaan sejak lahir. Namun dari pergaulan sekarang, misalnya satu kos dengan teman tertentu, anak bisa mengikuti perilaku itu meski gaya sehari-hari tetap normal,โ tutur dia.
Hal ini menunjukkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap lingkungan anak, termasuk media sosial dan pergaulan, agar anak berkembang secara sehat secara psikologis dan sosial.
Pentingnya Keharmonisan Keluarga dalam Perkembangan Anak
Lingkungan keluarga yang harmonis sangat menentukan perkembangan psikologis anak. Rumah tangga yang penuh konflik atau kekerasan dapat menjadi pemicu tekanan psikologis dan berpotensi menimbulkan perilaku seksual menyimpang.
โMungkin anak melihat bapaknya melakukan kekerasan terhadap ibunya dan merasa harus โmembelaโ atau meniru perilaku tersebut. Oleh karena itu, keharmonisan keluarga sangat penting dalam mendidik anak,โ kata Prof. Wimpie.
Ia menekankan agar pertengkaran orang tua tidak dilakukan di depan anak. โKalau mau bertengkar, masuk kamar dan kunci pintu supaya anak tidak menonton. Penting menjaga anak dalam masa pertumbuhan agar tumbuh normal,โ jelasnya.
Strategi Praktis Memberikan Pendidikan Seksual pada Anak
Prof. Wimpie menyarankan beberapa strategi praktis bagi orang tua untuk menerapkan pendidikan seksual:
- Edukasi sesuai usia: Ajarkan perubahan tubuh, organ reproduksi, dan fungsi biologis dengan bahasa sederhana.
- Pantau pertumbuhan fisik anak: Amati perkembangan organ reproduksi anak laki-laki maupun perempuan.
- Awasi lingkungan sosial: Batasi pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan yang negatif.
- Ajarkan privasi dan batasan tubuh: Anak memahami bahwa tubuhnya adalah miliknya dan harus dihormati.
Langkah-langkah ini membantu anak memahami seksualitas secara sehat, mengurangi risiko perilaku menyimpang, dan membangun rasa percaya diri sejak dini.
Pendidikan Seksual Sebagai Fondasi Perlindungan Anak
Pendidikan seksual bukan hanya memberikan informasi, tetapi membentuk kesadaran anak terhadap tubuh, privasi, dan perilaku sosial yang tepat. Dengan dukungan keluarga harmonis, pengawasan lingkungan, dan edukasi yang sesuai usia, anak berpeluang tumbuh menjadi individu sehat secara fisik, psikologis, dan sosial.
โPendidikan seksual yang diterapkan sejak dini akan membentuk anak yang sadar, aman, dan dapat mencegah penyimpangan di masa depan,โ tutup Prof. Wimpie.
Baca juga: “Soal Menstruasi-Batasan Tubuh, Ini Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seks Anak”
