Ratusan Warga Kaki Gunung Gede-Pangrango Datangi Kantor Bupati Cianjur
maiancheckout.com – Ratusan warga dari beberapa kecamatan di kaki Gunung Gede-Pangrango mendatangi Kantor Bupati Cianjur. Mereka menuntut janji Bupati Mohammad Wahyu Ferdian yang sebelumnya menyatakan akan menolak proyek pembangkit listrik panas bumi. Aksi berlangsung pada Rabu dan diikuti konvoi kendaraan dari wilayah utara Cianjur menuju pusat pemerintahan.
Massa melakukan orasi untuk menyampaikan keresahan terkait rencana pembangunan geothermal di Kecamatan Pacet dan Cipanas. Warga menilai proyek tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan alam di kawasan pegunungan yang menjadi sumber air dan kawasan rawan bencana.
Perwakilan massa Deden Patra menyebut warga mengingat ucapan Bupati saat kampanye. Ia menilai janji itu belum ditepati meski masyarakat kembali menyampaikan kekhawatirannya. Warga berharap pemerintah daerah tetap berpihak pada keselamatan lingkungan dan masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Aksi berlangsung di bawah pengamanan ketat aparat TNI, Polri, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan. Massa menyampaikan kekecewaan karena Bupati tidak hadir menerima aduan mereka. Para tokoh masyarakat mengingatkan bahwa Cianjur pernah diguncang gempa magnitudo 5,6 pada 2022 yang menyebabkan kerusakan luas dan korban jiwa.
Mereka menilai proyek geothermal berpotensi meningkatkan risiko bencana di kawasan rawan gempa. Warga berkomitmen menolak proyek yang dianggap mengancam keselamatan lingkungan dan sumber kehidupan masyarakat di bawah kaki gunung.
“Simak juga: Adian Napitupulu Kritik Pengungkapan Kasus Harun Masiku oleh KPK“ [5]
Warga Kaki Gunung Tegaskan Penolakan Proyek Geothermal di Kawasan Rawan Bencana
Massa aksi menegaskan akan terus menolak pembangunan proyek panas bumi di wilayah Pacet dan Cipanas. Mereka menyampaikan bahwa lingkungan di kawasan Gunung Gede-Pangrango memiliki fungsi ekologi penting bagi Cianjur. Wilayah tersebut menjadi sumber air, kawasan resapan, dan zona rawan pergerakan tanah.
Warga menilai pemerintah perlu melakukan kajian mendalam terkait dampak lingkungan dan risiko geologi sebelum memberikan izin proyek. Mereka meminta pemerintah terbuka terkait proses perizinan dan hasil kajian ilmiah agar masyarakat tidak hanya menerima keputusan sepihak.
Menurut Deden Patra, warga menolak proyek yang dinilai dapat memicu gangguan ekosistem dan potensi bencana. Ia menegaskan bahwa masyarakat akan terus menyampaikan tuntutan hingga pemerintah memberikan sikap jelas dan konsisten seperti janji yang pernah disampaikan saat kampanye.
Gerakan warga ini menunjukkan meningkatnya kesadaran publik terhadap keberlanjutan lingkungan dan keselamatan permukiman. Mereka berharap pemerintah segera merespons tuntutan dengan dialog terbuka dan keputusan berbasis kajian ilmiah agar konflik sosial tidak berkepanjangan.
Warga Nilai Ketidakhadiran Bupati Sebagai Bentuk Kurangnya Kepedulian
Ratusan warga kaki Gunung Gede-Pangrango kembali menyuarakan kekecewaannya setelah Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian tidak hadir saat mereka menggelar aksi. Warga menilai ketidakhadiran tersebut menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap keresahan masyarakat yang menolak proyek pembangkit listrik panas bumi di Pacet dan Cipanas. Massa menyampaikan bahwa mereka membutuhkan pemimpin yang hadir langsung untuk mendengarkan aspirasi warganya.
Perwakilan massa menegaskan bahwa warga datang untuk menagih janji kampanye. Mereka menyebut Bupati pernah berkomitmen menolak geothermal dan mendukung masyarakat yang ingin menjaga kelestarian kawasan gunung. Ketidakhadiran Bupati membuat warga menyimpulkan bahwa Cianjur tidak memiliki pemimpin yang berdiri bersama masyarakat dalam isu lingkungan strategis.
Aksi berjalan di bawah pengawalan aparat keamanan. Warga menyatakan akan melakukan demonstrasi berkelanjutan sampai pemerintah merespons tuntutan mereka. Sentimen penolakan proyek geothermal menguat karena warga menganggap wilayah kaki Gunung Gede-Pangrango memiliki ekosistem rapuh dan rawan bencana. Data dari berbagai lembaga geologi menunjukkan kawasan tersebut memiliki riwayat pergerakan tanah dan berada di sekitar zona seismik aktif.
Warga mengingat kembali gempa magnitudo 5,6 yang mengguncang Cianjur pada 2022 dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan besar. Mereka khawatir keberadaan proyek geothermal dapat meningkatkan risiko gangguan geologis yang mengancam keselamatan masyarakat.
Rencana Aksi Berlanjut Hingga Bandung dan Sorotan Pada Janji Kampanye
Warga berencana melanjutkan aksi penolakan hingga Kantor Gubernur Jawa Barat di Bandung. Mereka berharap pemerintah provinsi memberikan perhatian serius terhadap dampak pembangunan geothermal di kawasan konservasi tersebut. Massa meminta Pemprov Jawa Barat mempertimbangkan kajian lingkungan serta kondisi geologi sebelum mengambil keputusan terkait proyek strategis ini.
Sebuah video berisi janji kampanye Bupati Cianjur kembali viral di media sosial. Dalam video itu, Bupati menyatakan akan menolak pembangunan geothermal dan memilih mengembangkan sektor pariwisata di kawasan kaki Gunung Gede-Pangrango. Ia juga berjanji menjadikan Pacet dan Cipanas sebagai destinasi wisata yang setara dengan kawasan Gunung Bromo dan kawasan wisata pegunungan lain di Indonesia.
Warga berharap Bupati konsisten dengan janji tersebut dan menempatkan keselamatan lingkungan sebagai prioritas utama. Mereka menuntut dialog terbuka, transparansi kajian, dan keputusan berbasis sains. Masyarakat menegaskan akan terus memperjuangkan keberlanjutan lingkungan hingga pemerintah memberikan kepastian yang berpihak pada keselamatan dan kesejahteraan publik.
